Ilustrasi melakukan permohonan pasca pencatatan hak cipta
Jakarta — Setelah mencatatkan karya di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum (DJKl Kemenkum) pemohon memiliki kesempatan untuk mengubah atau memperbarui data pencatatan hak cipta apabila ditemukan kekeliruan atau terjadi perubahan setelah pencatatan dilakukan. Mekanisme ini penting untuk memastikan data hak cipta yang tercatat akurat, sah, dan dapat memberikan pelindungan hukum yang optimal bagi pencipta.
Pencatatan hak cipta berfungsi sebagai alat bukti awal atas kepemilikan suatu karya. Meskipun hak cipta lahir secara otomatis sejak karya diwujudkan, pencatatan di DJKI memberikan kepastian administratif yang sangat dibutuhkan, terutama ketika terjadi sengketa atau pemanfaatan karya secara komersial.
“Oleh karena itu, keakuratan data pencatatan menjadi aspek krusial dalam sistem pelindungan kekayaan intelektual,” ujar Direktur Hak Cipta dan Desain Industri DJKI Agung Damarsasongko di Kantor DJKI, Kuningan, Jakarta, Selasa, 27 Januari 2026.
Agung kemudian menjelaskan bahwa perubahan data pencatatan hak cipta dapat diajukan apabila terdapat kesalahan penulisan nama pencipta, judul ciptaan, data pemegang hak cipta, maupun informasi administratif lainnya. Agung menekankan bahwa pembaruan data ini merupakan bagian dari upaya negara dalam memberikan pelindungan hukum yang berkeadilan bagi para pencipta. Data yang benar dan mutakhir akan memudahkan pencipta dalam membuktikan hak moral dan hak ekonomi atas karyanya, termasuk ketika karya tersebut dimanfaatkan oleh pihak lain.
“Pemohon tidak perlu khawatir apabila setelah pencatatan ditemukan kekeliruan. DJKI menyediakan mekanisme perbaikan data agar pencatatan tetap sesuai dengan kondisi sebenarnya,” sambung Agung.
Lebih lanjut, Agung menjelaskan permohonan perubahan data pencatatan hak cipta dapat diajukan secara daring melalui akun permohonan pencatatan hak cipta di hakcipta.dgip.go.id . Pemohon perlu menyiapkan dokumen pendukung yang menjelaskan bagian data yang akan diperbaiki, sehingga proses verifikasi dapat dilakukan secara transparan dan akuntabel. Mekanisme ini dirancang agar mudah diakses oleh masyarakat, termasuk kreator pemula.
Pembaruan data pencatatan juga menjadi penting ketika terjadi peralihan hak, perubahan identitas pemegang hak cipta, atau penyesuaian informasi administratif lainnya. Tanpa pembaruan data, potensi sengketa di kemudian hari dapat meningkat dan justru merugikan pencipta maupun pihak yang memanfaatkan karya secara sah.
Melalui layanan ini, DJKI mendorong masyarakat untuk tidak hanya mencatatkan hak cipta, tetapi juga aktif memastikan bahwa data yang tercatat benar dan sesuai perkembangan. Pelindungan kekayaan intelektual bukan sekadar proses administratif, melainkan langkah strategis untuk menjaga nilai ekonomi dan integritas karya cipta.
Dengan adanya mekanisme perubahan dan pembaruan data pencatatan hak cipta, DJKI berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelindungan kekayaan intelektual semakin meningkat. Pencipta diimbau untuk memanfaatkan fasilitas ini secara bertanggung jawab, agar hak cipta yang dimiliki benar-benar terlindungi dan dapat memberikan manfaat jangka panjang.
Di Pasar Seni Makale suara musik dan langkah pengunjung bercampur dengan cerita lama yang kembali menemukan tempatnya. Di antara warna-warni kain yang digelar, empat Tenun Toraja resmi menutup tahun dengan kabar baik: negara mencatatkannya sebagai potensi indikasi geografis. Bagi para pengrajin, ini bukan sekadar sertifikat ini pengakuan atas kerja sunyi yang diwariskan dari ibu ke anak, dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Rabu, 31 Desember 2025
Indonesia meraih peringkat tertinggi se-ASEAN untuk jumlah indikasi geografis terdaftar berdasarkan data ASEAN IP Register per 27 November 2025. Sebanyak 246 produk dari dalam negeri dan 15 dari luar negeri telah terdaftar dan dilindungi oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum. Khususnya untuk produk dari dalam negeri, jumlahnya meningkat pesat dibandingkan capaian tahun sebelumnya sejumlah 167 produk.
Jumat, 28 November 2025
Dola Maludu, sebuah upacara adat sakral yang menjadi identitas masyarakat di Kelurahan Seli, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara, kini telah resmi terlindungi sebagai Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) melalui pencatatan di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum. Pencatatan ini menjadi langkah penting untuk memastikan tradisi turun temurun tersebut tidak mudah diklaim atau dimanfaatkan oleh pihak luar tanpa adanya persetujuan komunitas adat sebagai pemilik warisan budaya.
Rabu, 12 November 2025