Jakarta – Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI), Kementerian Hukum Republik Indonesia, melaksanakan pemeriksaan substantif perdana terhadap permohonan Indikasi Geografis “Pisang Mas Kirana Lumajang” secara daring melalui Zoom Meeting pada Selasa, 1 Juli 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen DJKI dalam mempercepat proses pelindungan Indikasi Geografis serta mendorong efisiensi layanan publik berbasis digital.
Direktur Merek dan Indikasi Geografis Hermansyah Siregar, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pelaksanaan pemeriksaan secara daring merupakan bentuk inovasi layanan yang efisien tanpa mengurangi kualitas pemeriksaan. “Langkah ini juga merupakan tindak lanjut arahan Menteri Hukum untuk mempercepat penyelesaian permohonan Indikasi Geografis sebagai bentuk optimalisasi pelayanan kepada masyarakat,” ujarnya.
Ketua Tim Ahli Indikasi Geografis sekaligus Tim Pemeriksa Awang Maharijaya menjelaskan bahwa pemeriksaan substantif bertujuan memastikan kesesuaian antara dokumen deskripsi dengan kondisi faktual di lapangan. Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara pemohon, pemerintah daerah, dan DJKI untuk memastikan pelindungan Indikasi Geografis berjalan efektif.
Pemeriksaan substantif ini menghadirkan pemohon dari Asosiasi Petani Pisang Seroja, didampingi oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Lumajang, serta Tim Pemeriksa dan Tim Ahli Indikasi Geografis. Pemeriksaan meliputi klarifikasi atas deskripsi produk, wilayah perlindungan, serta proses produksi Pisang Mas Kirana Lumajang.
Kegiatan ini diawali dengan penyampaian tata tertib pemeriksaan daring, dilanjutkan dengan tiga sesi utama, yaitu paparan dari pemohon, verifikasi oleh tim pemeriksa, serta evaluasi hasil pemeriksaan.
Budi Harianto selaku Ketua Asosiasi Petani Pisang Seroja memaparkan deskripsi produk Pisang Mas Kirana Lumajang. Produk ini meliputi buah pisang segar, keripik pisang, sale pisang, dan rambak pisang.
“Ciri khas Pisang Mas Kirana adalah ukurannya yang relatif kecil, rasa manis legit, dan kualitas premium yang dibagi menjadi beberapa grade berdasarkan berat per sisir,” jelas Budi.
Dalam presentasinya, Budi juga menekankan pentingnya pelindungan Indikasi Geografis mengingat adanya produk serupa yang berasal dari luar daerah seperti Malang, Lampung, dan Jember yang berpotensi meniru nama “Pisang Mas Kirana Lumajang”.
Adapun dari hasil pemeriksaan, pemohon diminta untuk melakukan perbaikan pada dokumen deskripsi, termasuk penyesuaian proses pengepakan dan penyusunan SOP produk turunan. Lebih lanjut, pemohon diharapkan dapat segera mengirimkan perbaikan dokumen deskripsi sesuai dengan kesepakatan yang sudah sepakati ketika kegiatan.
Melalui kegiatan ini, DJKI menegaskan komitmennya dalam memperkuat pelindungan kekayaan intelektual nasional secara inklusif dan berkelanjutan.
Bagi para penikmat kopi yang ingin memperluas pengalaman rasa, sebuah varietas unik kini hadir sebagai opsi eksplorasi: Kopi Liberika Kayong Utara. Kopi pertama dari Pulau Kalimantan yang terdaftar sebagai produk indikasi geografis tumbuh di lahan gambut pesisir Kalimantan Barat, kopi yang secara lokal dikenal sebagai Liberikayong ini menawarkan profil khas dengan aroma buah-buahan tropis seperti cempedak, memberikan warna baru di luar dominasi Arabika dan Robusta.
Minggu, 22 Februari 2026
Di pagi hari ketika kabut tipis masih menggantung di atas dataran rendah gambut Kabupaten Tanjung Jabung Barat, para petani Pinang Betara mulai menapaki lorong-lorong kebun dengan sabit panjang di tangan. Batang-batang pinang menjulang lurus, berderet rapi, sementara tandan buah matang menunggu untuk dipanen. Aktivitas ini telah berlangsung turun-temurun dari memilih bibit, merawat tanaman, hingga menjemur biji pinang di bawah terik matahari menjadi denyut kehidupan masyarakat Betara. Dari kebun-kebun inilah lahir Pinang Betara Jambi, komoditas khas yang tidak hanya menopang ekonomi petani lokal, tetapi kini juga diakui negara sebagai produk Indikasi Geografis.
Sabtu, 14 Februari 2026
Air mengalir pelan, doa dilafalkan dalam sunyi, dan kebersamaan terjalin tanpa banyak kata. Begitulah suasana Mandi Syafar setiap bulan Syafar (bulan kedua dalam kalender Hijriah Islam) di Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau. Ritual adat ini telah hidup ratusan tahun dalam keseharian masyarakat Melayu Lingga. Bukan sebagai pertunjukan, melainkan sebagai bagian dari kehidupan itu sendiri. Sejak 2019, ritual yang tumbuh dari ingatan kolektif tersebut telah diwariskan sebagai komunal yang terlindungi secara hukum.
Minggu, 8 Februari 2026