Di antara jejak sejarah Kesultanan Riau Lingga yang masih terawat di Pulau Penyengat, terdapat satu warisan rasa yang terus hidup dari dapur ke dapur masyarakat, yakni Kue Deram-Deram. Panganan tradisional berbentuk cincin kecil berwarna cokelat keemasan ini tidak hanya dikenal sebagai oleh-oleh khas Tanjungpinang, tetapi juga sebagai simbol identitas kuliner Melayu yang diwariskan lintas generasi.
Sejak masa kerajaan, Deram-Deram dipercaya menjadi sajian istimewa bagi keluarga istana. Seiring perjalanan waktu, kue ini berkembang menjadi hidangan rakyat yang hadir dalam perayaan keagamaan, kenduri, hingga penyambutan tamu. Cita rasanya yang manis dan gurih, dengan tekstur padat namun renyah saat digigit, menjadikannya camilan yang selalu dicari wisatawan saat berkunjung ke Pulau Penyengat.
Keunikan Deram-Deram terletak pada kesederhanaan bahan dan ketekunan proses pembuatannya. Gula aren direbus bersama santan dan air hingga menyatu, lalu dicampur dengan tepung beras hingga membentuk adonan kental. Setelah didiamkan sekitar enam jam untuk mencapai elastisitas yang tepat, adonan dibentuk bulat berlubang di tengah dan digoreng hingga berwarna kecokelatan. Teknik ini diwariskan secara lisan maupun tertulis dan tetap dipertahankan oleh masyarakat hingga kini.
Keberlanjutan produksi Deram-Deram memberi dampak nyata bagi perekonomian warga Pulau Penyengat. Usaha rumahan yang memproduksi kue ini menjadi sumber penghasilan bagi banyak keluarga, dengan harga jual berkisar Rp10.000 hingga Rp15.000 per kemasan. Selain dipasarkan langsung kepada wisatawan, promosi juga dilakukan melalui pameran, pertunjukan budaya, hingga media digital, memperluas jangkauan pasar tanpa meninggalkan akar tradisi.
Pelapor Kekayaan Intelektual Komunal Deram-Deram Penyengat, Dewi Kumalasari Ansar, menilai bahwa pelindungan hukum menjadi langkah penting untuk menjaga autentisitas dan keberlanjutan tradisi tersebut.
“Deram-Deram adalah hasil pengetahuan kolektif masyarakat Melayu Penyengat. Pencatatan sebagai Kekayaan Intelektual Komunal menjadi bentuk pengakuan negara atas warisan budaya ini sekaligus upaya melindunginya dari klaim atau pemanfaatan yang tidak bertanggung jawab,” ujar Dewi.
Ia menambahkan bahwa keterlibatan komunitas, guru budaya, dan maestro setempat menjadi fondasi utama dalam memastikan keterampilan ini tetap bertahan. Upaya pelestarian dilakukan melalui edukasi generasi muda, promosi langsung, serta partisipasi dalam berbagai kegiatan kebudayaan di tingkat daerah maupun nasional.
Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual, Hermansyah Siregar saat diwawancara melalui daring pada Minggu, 15 Maret 2026, menegaskan bahwa pelindungan Kekayaan Intelektual Komunal memiliki peran strategis dalam menjaga warisan budaya sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis kearifan lokal
“Melalui mekanisme Kekayaan Intelektual Komunal, negara memastikan bahwa pengetahuan tradisional seperti Deram-Deram Penyengat tercatat, terdokumentasi, dan terlindungi secara hukum. Pelindungan ini penting agar manfaat ekonominya kembali kepada komunitas asal serta mencegah potensi penyalahgunaan oleh pihak lain,” tegas Hermansyah.
Pelindungan KI bukan sekadar pencatatan administratif, melainkan komitmen menjaga identitas dan keberlanjutan warisan bangsa. Deram-Deram Penyengat membuktikan bahwa kekayaan tradisional dapat terus berkembang dan memberikan nilai tambah ekonomi apabila dikelola secara kolektif dan dilindungi secara tepat melalui skema Kekayaan Intelektual Komunal.
Bagi para penikmat kopi yang ingin memperluas pengalaman rasa, sebuah varietas unik kini hadir sebagai opsi eksplorasi: Kopi Liberika Kayong Utara. Kopi pertama dari Pulau Kalimantan yang terdaftar sebagai produk indikasi geografis tumbuh di lahan gambut pesisir Kalimantan Barat, kopi yang secara lokal dikenal sebagai Liberikayong ini menawarkan profil khas dengan aroma buah-buahan tropis seperti cempedak, memberikan warna baru di luar dominasi Arabika dan Robusta.
Minggu, 22 Februari 2026
Di pagi hari ketika kabut tipis masih menggantung di atas dataran rendah gambut Kabupaten Tanjung Jabung Barat, para petani Pinang Betara mulai menapaki lorong-lorong kebun dengan sabit panjang di tangan. Batang-batang pinang menjulang lurus, berderet rapi, sementara tandan buah matang menunggu untuk dipanen. Aktivitas ini telah berlangsung turun-temurun dari memilih bibit, merawat tanaman, hingga menjemur biji pinang di bawah terik matahari menjadi denyut kehidupan masyarakat Betara. Dari kebun-kebun inilah lahir Pinang Betara Jambi, komoditas khas yang tidak hanya menopang ekonomi petani lokal, tetapi kini juga diakui negara sebagai produk Indikasi Geografis.
Sabtu, 14 Februari 2026
Air mengalir pelan, doa dilafalkan dalam sunyi, dan kebersamaan terjalin tanpa banyak kata. Begitulah suasana Mandi Syafar setiap bulan Syafar (bulan kedua dalam kalender Hijriah Islam) di Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau. Ritual adat ini telah hidup ratusan tahun dalam keseharian masyarakat Melayu Lingga. Bukan sebagai pertunjukan, melainkan sebagai bagian dari kehidupan itu sendiri. Sejak 2019, ritual yang tumbuh dari ingatan kolektif tersebut telah diwariskan sebagai komunal yang terlindungi secara hukum.
Minggu, 8 Februari 2026
Sabtu, 14 Maret 2026
Jumat, 13 Maret 2026
Jumat, 13 Maret 2026