Pemerintah Kabupaten Jombang Terima Sertifikat IG Kopi Excelsa Jombang

Jakarta - Direktur Merek dan Indikasi Geografis Kurniaman Telaumbanua menyerahkan Sertifikat Indikasi Geografis Kopi Excelsa Jombang kepada Pemerintah Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Sertifikat IG tersebut diserahkan saat kunjungan kerja Pemerintah Kabupaten Jombang ke kantor Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) pada 4 Juli 2024. Kopi Excelsa Jombang terdaftar sebagai indikasi geografis (IG) dengan nomor registrasi IDG000000139.

Excelsa adalah salah satu dari empat jenis biji kopi yang beredar secara komersial selain arabika, robusta dan liberika. Jenis kopi ini hidup dan tumbuh di daerah Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Salah satu wilayah di Indonesia yang menjadi tempat pembudidayaan kopi excelsa adalah Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Tempat tersebut merupakan salah satu lumbung penghasil kopi excelsa terbesar di Indonesia. Tanaman kopi excelsa terhampar di kaki Gunung Anjasmoro yang berbatasan dengan Kabupaten Kediri, Malang, dan Mojokerto.

Dalam sambutannya, Kurniaman menyampaikan apresiasinya kepada Pemerintah Kabupaten Jombang yang telah mendorong terbitnya sertifikat IG tersebut melalui pengajuan permohonan pendaftarannya.

“Walaupun 90 persen perdagangan kopi di dunia didominasi oleh kopi arabica dan robusta. Dengan terbitnya sertifikat ini, diharapkan pemasaran kopi excelsa akan semakin baik lagi. Karena inti dari IG ini adalah bagaimana bisa memaksimalkan komersialisasi,” ucap Kurniaman.

Lebih lanjut Kurniaman menyarankan agar setiap kemasan produk kopi excelsa nantinya mencantumkan logo IG nasional. Menurutnya, logo berlambang bunga teratai merah tersebut merupakan jaminan kualitas terhadap isi produk di dalam kemasannya.

Tidak hanya itu, Kurniaman menyampaikan keinginannya agar Pemerintah Kabupaten Jombang menerbitkan regulasi yang mengatur tentang pengelolaan kopi.

“Sebagai contoh, peraturan Gubernur Bangka Belitung yang mengatur tentang bagaimana pemasaran, penjualan, dan pengelolaan tata niaga lada putih muntok dengan tujuan utamanya adalah terjaminnya kualitas dan reputasi IG terdaftar,” terang Kurniaman.

Dalam berbagai kesempatan, Kurniaman sering mengistilahkan IG sebagai ekonomi umat. Maka dari itu sangat penting baginya agar terjalin keharmonisan di antara anggota Masyarakat Pelindungan Indikasi Geografis (MPIG).

“Pendaftaran IG tidak bisa diajukan untuk kepemilikan personal, karena tujuannya adalah untuk kepentingan bersama para anggota MPIG. Kerukunan antar anggota merupakan hal dasar yang harus dipenuhi, agar para anggota MPIG dapat fokus menjaga kualitas, karakteristik dan reputasi dari kopi excelsa jombang ini,” ujar Kurniaman menutup sambutannya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jombang Muchamad Rony menyampaikan rasa terima kasihnya atas penerbitan sertifikat IG Kopi Excelsa Jombang.

“Kopi Excelsa Jombang sendiri sudah diekspor hingga Malaysia dan Australia. Dengan terbitnya sertifikat IG ini, membuat kami semakin percaya diri. Logo IG yang nantinya akan kami sematkan di setiap kemasan produk kopi excelsa jombang, tentunya dapat memberikan nilai tambah atas produk tersebut. Karena logo ini merupakan representasi jaminan mutu, kualitas dan keaslian produk IG,” pungkas Rony. (Iwm/Syl)



LIPUTAN TERKAIT

Citarasa Pesisir: Uniknya Kopi Liberika Kayong Utara

Bagi para penikmat kopi yang ingin memperluas pengalaman rasa, sebuah varietas unik kini hadir sebagai opsi eksplorasi: Kopi Liberika Kayong Utara. Kopi pertama dari Pulau Kalimantan yang terdaftar sebagai produk indikasi geografis tumbuh di lahan gambut pesisir Kalimantan Barat, kopi yang secara lokal dikenal sebagai Liberikayong ini menawarkan profil khas dengan aroma buah-buahan tropis seperti cempedak, memberikan warna baru di luar dominasi Arabika dan Robusta.

Minggu, 22 Februari 2026

Pinang Betara Jambi: Jejak Panjang Kearifan Lokal Menuju Pengakuan Indikasi Geografis

Di pagi hari ketika kabut tipis masih menggantung di atas dataran rendah gambut Kabupaten Tanjung Jabung Barat, para petani Pinang Betara mulai menapaki lorong-lorong kebun dengan sabit panjang di tangan. Batang-batang pinang menjulang lurus, berderet rapi, sementara tandan buah matang menunggu untuk dipanen. Aktivitas ini telah berlangsung turun-temurun dari memilih bibit, merawat tanaman, hingga menjemur biji pinang di bawah terik matahari menjadi denyut kehidupan masyarakat Betara. Dari kebun-kebun inilah lahir Pinang Betara Jambi, komoditas khas yang tidak hanya menopang ekonomi petani lokal, tetapi kini juga diakui negara sebagai produk Indikasi Geografis.

Sabtu, 14 Februari 2026

Mandi Syafar, dari Ritual ke Warisan Komunal Terlindungi

Air mengalir pelan, doa dilafalkan dalam sunyi, dan kebersamaan terjalin tanpa banyak kata. Begitulah suasana Mandi Syafar setiap bulan Syafar (bulan kedua dalam kalender Hijriah Islam) di Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau. Ritual adat ini telah hidup ratusan tahun dalam keseharian masyarakat Melayu Lingga. Bukan sebagai pertunjukan, melainkan sebagai bagian dari kehidupan itu sendiri. Sejak 2019, ritual yang tumbuh dari ingatan kolektif tersebut telah diwariskan sebagai komunal yang terlindungi secara hukum.

Minggu, 8 Februari 2026

Selengkapnya