antarmuka POP HC
JAKARTA - Pencatatan hak cipta kini dapat dilakukan secara cepat dan sederhana melalui layanan Persetujuan Otomatis Permohonan Hak Cipta (POP HC). Melalui sistem ini, pencatatan hak cipta dapat diselesaikan dalam waktu di bawah lima menit selama data dan dokumen yang diajukan telah lengkap dan sesuai ketentuan.
Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual (Dirjen KI) Hermansyah Siregar menegaskan bahwa POP HC memang dirancang untuk menjawab kebutuhan pelaku industri kreatif akan layanan yang cepat dan mudah. Pemohon tidak perlu datang ke kantor DJKI maupun kantor wilayah untuk mendapatkan pelayanan ini.
“POP HC didesain agar pencatatan hak cipta dapat dilakukan secara efisien dan selesai dalam waktu singkat. Layanan ini kami hadirkan untuk menyokong industri kreatif agar dapat lebih cepat melindungi kekayaan intelektualnya dan memiliki kepastian hukum atas karya yang dihasilkan,” ujar Hermansyah pada Rabu, 21 Januari 2026
POP HC merupakan sistem pencatatan hak cipta berbasis elektronik yang memungkinkan pencipta atau pemegang hak cipta memperoleh Surat Pencatatan Ciptaan secara otomatis setelah permohonan dinyatakan lengkap. Dengan proses yang ringkas, pencipta tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan bukti formal pencatatan hak cipta yang dapat digunakan dalam berbagai kebutuhan, termasuk kerja sama komersial dan pembuktian hukum.
Selanjutnya, Direktur Hak Cipta dan Desain Industri Agung Damarsasongko memaparkan bahwa persyaratan pencatatan hak cipta melalui POP HC meliputi identitas pencipta dan/atau pemegang hak cipta, surat pernyataan kepemilikan ciptaan, serta contoh ciptaan yang akan dicatatkan sesuai jenis karyanya. Untuk pemohon perorangan, identitas berupa KTP diperlukan, sedangkan badan hukum wajib melampirkan dokumen pendirian. Seluruh dokumen disiapkan dalam format digital untuk diunggah ke sistem DJKI.
Sementara itu, tata cara pencatatan hak cipta dimulai dengan pembuatan akun pada sistem pencatatan hak cipta DJKI (hakcipta.dgip.go.id). Pemohon kemudian mengisi formulir permohonan secara daring, mengunggah dokumen persyaratan, serta melakukan pembayaran biaya pencatatan sesuai ketentuan. Pemohon dikenakan biaya Rp200.000 untuk setiap permohonan.
Setelah seluruh tahapan terpenuhi, sistem POP HC akan memproses permohonan secara otomatis dan menerbitkan Surat Pencatatan Ciptaan yang dapat diunduh oleh pemohon. Agung menambahkan bahwa kemudahan dan kecepatan layanan POP HC diharapkan dapat mendorong semakin banyak pencipta untuk mencatatkan karyanya sejak dini.
“Dengan pencatatan yang cepat, para kreator dapat lebih fokus berkarya tanpa khawatir karyanya disalahgunakan oleh pihak lain,” Agung pada kesempatan yang sama.
Pelindungan hak cipta menganut asas deklaratif, yaitu pelindungan hukum timbul secara otomatis sejak suatu ciptaan diwujudkan. Pencatatan merupakan bukti awal kepemilikan namun meskipun pencatatan tidak bersifat wajib, langkah ini sangat penting sebagai alat pembuktian dan upaya preventif untuk mengatasi plagiasi serta pelanggaran hak cipta yang dapat merugikan kreator.
Melalui layanan POP HC, DJKI mengajak seluruh pencipta dan pelaku industri kreatif untuk memanfaatkan kemudahan pencatatan hak cipta sebagai bentuk kesadaran dan tanggung jawab dalam melindungi kekayaan intelektual di Indonesia.
PENGUMUMAN NOMOR HKI.1-PB.05.01-366 TENTANG LELANG BARANG MILIK NEGARA : Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, melalui perantara Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Jakarta IV akan melaksanakan Lelang Non Eksekusi Wajib Barang Milik Negara berupa Kendaraan Dinas Roda Empat dengan rincian sebagai berikut:
Rabu, 23 September 2026
Dalam rangka pelaksanaan ketentuan Pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 100 Tahun 2021 tentang Konsultan Kekayaan Intelektual sebagaimana diatur lebih lanjut dalam Peraturan Menteri Hukum Nomor 15 Tahun 2023 tentang Peraturan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 100 Tahun 2021 tentang Konsultan Kekayaan Intelektual, Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (“DJKI”) Kementerian Hukum Republik Indonesia mengundang perguruan tinggi di Indonesia, baik perguruan tinggi negeri ataupun perguruan tinggi swasta, untuk menyampaikan proposal kerja sama penyelenggaraan Pelatihan Calon Konsultan Kekayaan Intelektual.
Selasa, 11 Agustus 2026
Dalam rangka mewujudkan pelayanan publik di bidang kekayaan intelektual yang efisien, transparan, dan akuntabel, serta sejalan dengan semangat digitalisasi tata kelola pemerintahan, Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual senantiasa berupaya meningkatkan kualitas layanan penerbitan Sertifikat Paten kepada masyarakat. Sertifikat Paten merupakan dokumen resmi yang diterbitkan oleh Menteri Hukum yang digunakan sebagai bukti kepemilikan Paten atau Paten sederhana. Sertifikat Paten atau Paten sederhana yang telah diberikan Sertifikat dicatat dan diumumkan oleh Menteri, serta pengumuman dimaksud dilakukan melalui sarana elektronik dan/atau nonelektronik.
Jumat, 17 Juli 2026