DJKI Bahas Penguatan Pemeriksaan Paten ASEAN di Singapura

Singapura – Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) menghadiri dua forum kerja sama paten tingkat ASEAN yang digelar di Singapura pada 10–11 Maret 2026. Pertemuan ini menjadi ruang bagi negara anggota untuk membahas peningkatan kualitas pemeriksaan paten, pengurangan backlog, serta penguatan kolaborasi teknis antarkantor paten di kawasan.

Dua agenda yang diikuti yaitu 6th ASEAN-Japan Patent Experts Meeting dan Twenty-Fifth Meeting of the Patents Task Force (PTF). DJKI diwakili oleh Kepala Subdirektorat Permohonan dan Pelayanan Paten Rifan Fikri dan Pemeriksa Paten Ahli Madya pada Direktorat Paten, DTLST, dan Rahasia Dagang Faisal Narpati.

Pada ASEAN-Japan Patent Experts Meeting, pembahasan difokuskan pada manajemen mutu pemeriksaan paten melalui pertukaran pengalaman terkait metode audit dan pengendalian kualitas pemeriksaan. Diskusi dilakukan antara kantor paten negara anggota ASEAN dengan Japan Patent Office (JPO) serta menghadirkan paparan dari Economic Research Institute for ASEAN and East Asia terkait praktik pemeriksaan paten di bidang farmasi dan teknologi.

“Melalui forum ini, Indonesia dapat memperoleh perspektif baru mengenai pengelolaan mutu pemeriksaan paten, termasuk praktik audit kualitas yang diterapkan oleh kantor paten negara lain. Hal ini menjadi referensi penting dalam upaya peningkatan kualitas layanan paten di Indonesia,” ujar Rifan Fikri pada Rabu, 11 Maret 2026 di kantor KI Singapura (IPOS).

Sementara itu, pada Twenty-Fifth Meeting of the Patents Task Force, negara anggota ASEAN membahas perkembangan statistik paten dan langkah-langkah untuk mengurangi backlog pemeriksaan. Pertemuan ini juga menyoroti pengembangan kerja sama melalui skema ASEAN Patent Examination Cooperation serta penguatan kolaborasi dengan mitra dialog ASEAN.

Forum tersebut turut menjadi wadah diskusi mengenai harmonisasi praktik pemeriksaan paten dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia pemeriksa paten di kawasan. Upaya ini diharapkan dapat mendorong efisiensi proses pemeriksaan sekaligus meningkatkan kualitas sistem paten di negara anggota.

Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual, Hermansyah Siregar, menegaskan bahwa keterlibatan Indonesia dalam forum-forum teknis di tingkat regional merupakan bagian dari upaya memperkuat sistem paten nasional.

“Keterlibatan aktif DJKI dalam berbagai forum kerja sama internasional penting untuk memperkaya praktik pemeriksaan paten di Indonesia. Kolaborasi ini juga membuka ruang pertukaran pengetahuan yang dapat meningkatkan kualitas layanan paten bagi para inovator,” ujar Hermansyah.



TAGS

#Paten

LIPUTAN TERKAIT

Citarasa Pesisir: Uniknya Kopi Liberika Kayong Utara

Bagi para penikmat kopi yang ingin memperluas pengalaman rasa, sebuah varietas unik kini hadir sebagai opsi eksplorasi: Kopi Liberika Kayong Utara. Kopi pertama dari Pulau Kalimantan yang terdaftar sebagai produk indikasi geografis tumbuh di lahan gambut pesisir Kalimantan Barat, kopi yang secara lokal dikenal sebagai Liberikayong ini menawarkan profil khas dengan aroma buah-buahan tropis seperti cempedak, memberikan warna baru di luar dominasi Arabika dan Robusta.

Minggu, 22 Februari 2026

Pinang Betara Jambi: Jejak Panjang Kearifan Lokal Menuju Pengakuan Indikasi Geografis

Di pagi hari ketika kabut tipis masih menggantung di atas dataran rendah gambut Kabupaten Tanjung Jabung Barat, para petani Pinang Betara mulai menapaki lorong-lorong kebun dengan sabit panjang di tangan. Batang-batang pinang menjulang lurus, berderet rapi, sementara tandan buah matang menunggu untuk dipanen. Aktivitas ini telah berlangsung turun-temurun dari memilih bibit, merawat tanaman, hingga menjemur biji pinang di bawah terik matahari menjadi denyut kehidupan masyarakat Betara. Dari kebun-kebun inilah lahir Pinang Betara Jambi, komoditas khas yang tidak hanya menopang ekonomi petani lokal, tetapi kini juga diakui negara sebagai produk Indikasi Geografis.

Sabtu, 14 Februari 2026

Mandi Syafar, dari Ritual ke Warisan Komunal Terlindungi

Air mengalir pelan, doa dilafalkan dalam sunyi, dan kebersamaan terjalin tanpa banyak kata. Begitulah suasana Mandi Syafar setiap bulan Syafar (bulan kedua dalam kalender Hijriah Islam) di Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau. Ritual adat ini telah hidup ratusan tahun dalam keseharian masyarakat Melayu Lingga. Bukan sebagai pertunjukan, melainkan sebagai bagian dari kehidupan itu sendiri. Sejak 2019, ritual yang tumbuh dari ingatan kolektif tersebut telah diwariskan sebagai komunal yang terlindungi secara hukum.

Minggu, 8 Februari 2026

Selengkapnya