Jakarta — Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual Razilu, menjelaskan pada sesi panelis Intellectual Property Executive Forum bahwa kekayaan intelektual (KI) telah bertransformasi dari aset pasif menjadi mesin penggerak ekonomi Indonesia. Hal tersebut disampaikannya pada agenda kegiatan yang berlangsung di gedung SMESCO Jakarta, 13 Agustus 2025.
Lebih lanjut Razilu mengatakan dalam forum yang bertujuan membangun ekosistem KI sebagai fondasi pembangunan nasional tersebut, bahwa sesungguhnya setiap sertifikat KI memiliki potensi untuk menjadi modal produktif.
"Bagi pemilik sertifikat merek misalnya, pemiliknya berpeluang mendapatkan keuntungan finansial dari pemberian lisensi bagi pihak lain yang ingin menggunakan merek miliknya,” ujar Razilu.
Sementara itu dalam konteks global, Razilu menambahkan bahwa nilai ekonomi dunia telah melonjak hingga lebih dari 120 triliun yang pertumbuhannya didominasi oleh aset-aset tak berwujud.
“Intangible asset, dalam hal ini meliputi paten, merek, hak cipta dan lainnya telah menjadi pilar utama penggeser ekonomi yang tadinya berbasis fisik seperti bangunan, tanah, dan lain-lain sebagainya,” imbuh Razilu.
Razilu juga menyoroti pentingnya peran pemerintah dalam memfasilitasi terbentuknya ekosistem KI yang sehat. Salah satu upayanya adalah dengan meningkatkan pemahaman masyarakat terkait pentingnya KI. Hal konkret yang telah dilakukan DJKI sejalan dengan ini yaitu melalui berbagai macam sosialisasi, maupun diseminasi.
“DJKI bahkan telah memiliki sebuah program bernama Obrolan Kreatif, Edukatif, Kekayaan Intelektual (OKE KI) yang dilaksanakan setiap pekan. Program yang awalnya dilaksanakan satu kali dalam sebulan sebelum tahun 2025, kini dilaksanakan empat kali dalam sebulan,” pungkas Razilu.
Menutup paparannya, Razilu mengajak semua pihak untuk berkolaborasi dalam pembangunan ekosistem KI yang kondusif. Ia berharap forum ini menjadi titik awal untuk memperkuat sinergi dan aksi nyata, memanfaatkan potensi KI yang luar biasa untuk inovasi dan kesejahteraan.
Sebagai informasi, forum ini berlanjut ke sesi kedua dengan menghadirkan narasumber dari berbagai lembaga, yaitu IP Public Service Department CNIPA, Wang Bo, International Projects DKPTO, Michael Poulsen, JICA Expert, Inoue Kazutoshi, serta Sekretaris Jenderal Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Junaidi Khotib. Pada sesi kedua tersebut, pembahas mengarah pada program dan strategi KI untuk mendorong terciptanya kreasi intelektual bernilai tinggi demi mendukung pertumbuhan ekonomi yang maju dan kreatif.
Pencanangan tahun 2026 sebagai Tahun Paten juga diikuti dengan penguatan Forum Bisnis Paten (FBP) sebagai langkah konkret untuk mempercepat hilirisasi inovasi nasional. Forum ini dirancang sebagai ruang temu antara inventor, industri, investor, dan lembaga riset agar paten dalam negeri tidak hanya terdaftar, tetapi juga dimanfaatkan secara nyata melalui komersialisasi paten dari pemanfaatannya sebagai aset dan modal dalam bisnis.
Senin, 16 Februari 2026
Kilau emas Medali Gordon Sepucuk Jambi Sembilan Lurah tidak sekadar memantulkan cahaya, tetapi juga memantulkan ingatan kolektif masyarakat adat Jambi akan sejarah panjang, nilai kehormatan, dan jati diri budaya yang diwariskan lintas generasi. Di tengah derasnya arus modernisasi, medali ini tetap bertahan sebagai simbol kebesaran adat yang hidup dan dimuliakan, bukan hanya disimpan sebagai peninggalan masa lalu.
Minggu, 15 Februari 2026
Delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Hermansyah Siregar melaksanakan pertemuan bilateral dengan Direktur Jenderal World Intellectual Property Organization (WIPO) Daren Tang, didampingi Deputy Director General (DDG) WIPO Hasan Kleib, pada Jumat, 13 Februari 2026 di Jenewa, Swiss. Pertemuan tersebut membahas sejumlah agenda strategis kerja sama di bidang kekayaan intelektual, mulai dari penguatan kapasitas nasional hingga peran Indonesia dalam tata kelola KI global.
Sabtu, 14 Februari 2026
Senin, 16 Februari 2026
Minggu, 15 Februari 2026
Sabtu, 14 Februari 2026