Menyusuri Jejak Indikasi Geografis di Jalur Mudik Pantura dan Pansela

Jakarta - Suasana terminal, stasiun, dan pelabuhan tampak lebih padat dari biasanya saat memasuki minggu ketiga Maret 2026. Kurang dari sepekan menjelang perayaan Idulfitri 1447 Hijriah, jutaan orang bersiap menempuh ratusan kilometer demi sebuah tradisi tahunan, pulang ke kampung halaman.

Untuk Anda yang hendak pulang kampung menempuh perjalanan darat membelah Pulau Jawa, momen ini bisa menjadi kesempatan menarik bagi untuk berburu berbagai produk indikasi geografis terdaftar. Kita bisa menyusuri rute mudik sambil berhenti sejenak di tiap titik asal indikasi geografis, mengumpulkan buah tangan yang nantinya akan menambah kehangatan saat hari kemenangan tiba.

Bagi pemudik yang memulai perjalanan dari arah barat, Jawa Barat menawarkan perbekalan pertama yang sangat bermakna. Anda bisa singgah di Cianjur untuk mengamankan persediaan Beras Pandanwangi Cianjur.

Beras dengan aroma wangi alami ini adalah salah satu bahan pokok terbaik untuk disajikan saat Lebaran. Membawanya pulang sebagai bentuk bakti untuk orang tua di kampung agar mereka bisa menikmati hidangan istimewa di hari raya.

Melanjutkan perjalanan ke jalur tengah, jangan lewatkan untuk berhenti di Sumedang demi mendapatkan Ubi Cilembu Sumedang. Sembari mengantre ubi hangat untuk bekal takjil di perjalanan, Anda juga bisa membeli ubi mentah untuk stok Lebaran, serta mendapatkan Teh Java Preanger yang legendaris.

Menikmati teh hangat dan ubi panggang sembari merayakan momen silaturahmi bersama keluarga besar, tentu akan menjadi pelengkap kebahagiaan yang tak tergantikan.

Memasuki wilayah Jawa Tengah melalui jalur Pantai Utara (Pantura), Sarung Batik Pekalongan menjadi buruan wajib pertama sebelum melanjutkan perjalanan lebih jauh ke timur. Memilih motif batik yang khas untuk dikenakan saat solat Idulfitri akan memberikan kesan khidmat melalui identitas budaya yang kuat saat berbaur dengan tetangga di tanah kelahiran.

Kekhasan semacam ini merupakan poin inti dari pelindungan indikasi geografis. Sebuah pengakuan negara bahwa produk tersebut menyimpan reputasi yang tidak mungkin ditemukan di tempat lain karena adanya ikatan kuat dengan tanah asalnya.

Setelah dari Pekalongan, Anda bisa membelok sejenak menuju Jepara. Wilayah ini merupakan jantung dari Mebel Ukir Jepara, di mana Anda bisa melihat langsung ketelitian para perajin dalam memahat kayu yang telah mendunia kualitasnya.

Membeli satu atau dua hiasan dinding dari sana akan menjadi penghias rumah orang tua yang istimewa. Karya seni ini tentu akan menjadi cerita tersendiri yang membanggakan saat tamu-tamu datang bersilaturahmi ke rumah orang tua di hari Lebaran nanti. Sebagai pelengkap, Carica Dieng yang segar dalam kemasan manisan sangat pas untuk diborong sebagai camilan khas bagi keluarga.

Selanjutnya, apabila perjalanan Anda melewati sisi selatan pulau jawa, di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya pada wilayah Bantul, sempatkan berhenti di sentra Batik Tulis Nitik Yogyakarta. Anda bisa berwisata melihat proses para pengrajin menarikan cantingnya dengan cantik sekaligus membeli kain eksklusif sebagai oleh-oleh kelas satu yang bernilai sejarah tinggi.

Jangan lupa juga membawa Gula Kelapa Kulonprogo Jogja. Produk yang telah berhasil menembus pasar internasional ini akan menjadi bahan rahasia yang istimewa untuk campuran bumbu masakan Lebaran atau pemanis minuman saat menjamu tamu-tamu jauh di rumah orang tua.

Menjelang akhir perjalanan di ujung timur Pulau Jawa, wilayah Jawa Timur memberikan penutup yang premium. Berhentilah sejenak di area Bondowoso untuk mendapatkan Kopi Arabika Java Ijen-Raung. Kopi dengan reputasi dunia ini akan menjadi sajian penutup perayaan Idulfitri yang sempurna, diseruput perlahan sembari berbagi cerita perjalanan mudik bersama saudara.

Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual Hermansyah Siregar, menuturkan bahwa memilih produk indikasi geografis adalah bentuk apresiasi terhadap integritas produk lokal. Saat diwawancarai secara daring di Jakarta 18 Maret 2026, ia mengajak para pemudik untuk melirik produk yang telah memiliki pelindungan hukum tersebut sebagai hadiah istimewa.

"Produk indikasi geografis layak menjadi pilihan utama pemudik karena setiap itemnya membawa cerita dan standar kualitas yang terjaga. Pastikan masyarakat membeli produk yang benar-benar mencantumkan label indikasi geografis sebagai jaminan keaslian dan mutu," tutur Hermansyah.

Ia menambahkan bahwa dengan membawa pulang produk indikasi geografis yang asli, masyarakat bisa mempersembahkan sesuatu yang berkesan untuk dinikmati bersama keluarga di kampung halaman. Baik itu dalam bentuk hidangan yang disajikan maupun mahakarya yang dikenakan di hari kemenangan.

"Kehadiran label indikasi geografis pada produk di jalur mudik adalah pengingat bahwa kekayaan intelektual sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari," ujar Hermansyah.

Pihaknya di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual atau DJKI terus berupaya memastikan bahwa pelindungan ini memberikan dampak nyata bagi pemudik sebagai konsumen maupun bagi daerah sebagai pemilik kekayaan tersebut dengan jaminan mutu produk yang terjaga.

Lebih lanjut, Hermansyah menjelaskan bahwa DJKI tengah menggodok strategi GI Tourism untuk mengembangkan persepsi masyarakat terhadap indikasi geografis dari sekadar label produk daerah menjadi sebuah rute pengalaman wisata yang autentik. Melalui pendekatan ini, setiap produk tidak hanya dikenalkan sebagai barang, tetapi sebagai cerita yang bisa disentuh, dicicip, dan dibawa pulang oleh pemudik dalam bentuk memori yang kuat sekaligus manfaat ekonomi bagi masyarakat asal.

Momen mudik Maret 2026 ini akhirnya membuktikan bahwa setiap produk yang masuk ke dalam bagasi pemudik mencerminkan keberhasilan kita dalam menjaga aset bangsa. Seiring langkah kaki yang kembali ke tanah kelahiran, oleh-oleh berlabel indikasi geografis di tangan adalah identitas, kebanggaan, serta bukti bahwa rasa asli dari kampung halaman akan tetap terjaga berkat sinergi antara masyarakat dan DJKI.



LIPUTAN TERKAIT

Fitur One Time Password Aplikasi Permohonan Hak Cipta

Jumat, 21 Maret 2025

WIPO Global Award 2025

Selasa, 11 Februari 2025

INFORMASI PROGRAM KERJA SAMA PENELUSURAN DAN PEMERIKSAAN PATEN

Program Kerja Sama Penelusuran dan Pemeriksaan (CS&E) adalah program antara kantor Kekayaan Intelektual Singapura dan Indonesia untuk mempercepat proses penelusuran dan pemeriksaan paten bagi para inovator yang ingin mengajukan paten di kedua negara. Program rintisan ini diluncurkan pada tanggal 2 Januari 2025 untuk periode awal selama 2 tahun, hingga tanggal 1 Januari 2027. Pelajari selengkapnya di panduan berikut:

Jumat, 10 Januari 2025

Selengkapnya