Jakarta - Upaya memperkuat daya saing usaha nasional harus dimulai dari pelindungan kekayaan intelektual (KI), khususnya merek. Pesan tersebut disampaikan Direktur Merek dan Indikasi Geografis Fajar Sulaeman Taman dalam seminar yang diselenggarakan bersama Japan International Cooperation Agency (JICA) pada Rabu, 18 Februari 2026 di JS Luwansa Hotel, Jakarta yang menekankan pentingnya pendaftaran merek sebagai langkah strategis bagi start-up dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Dalam kegiatan seminar “Membangun Merek untuk Start-Up dan UMKM dalam Meningkatkan Daya Saing Bisnis” tersebut, Fajar menegaskan bahwa merek bukan sekadar identitas visual, melainkan aset yang mencerminkan reputasi, kualitas, serta kepercayaan konsumen terhadap suatu produk. “Merek bukan hanya simbol, melainkan representasi reputasi dan kualitas usaha. Karena itu, pendaftaran merek menjadi penting untuk memberikan kepastian hukum sekaligus memperkuat posisi bisnis di pasar,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pelindungan merek perlu dipandang sebagai bagian dari strategi bisnis sejak awal pendirian usaha. Langkah tersebut dapat dimulai dengan penelusuran merek sebelum digunakan, pengajuan pendaftaran secara resmi, serta pengelolaan merek secara konsisten. “Pelindungan merek bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi investasi jangka panjang yang dapat meningkatkan nilai ekonomi usaha,” tambahnya.
Fajar juga menyoroti berbagai kemudahan yang telah disediakan pemerintah untuk mendorong pelaku usaha melindungi mereknya, termasuk tarif khusus bagi UMKM serta skema merek kolektif. “Fasilitas tersebut diharapkan mampu memperluas akses pelindungan kekayaan intelektual sekaligus membuka peluang pengembangan usaha dan ekspansi pasar,” jelasnya.
Pada kesempatan yang sama, JICA Expert Kazutoshi Inoue, menegaskan bahwa merek merupakan fondasi kepercayaan konsumen sekaligus aset penting perusahaan. “Merek bukan hanya nama atau logo, tetapi nilai dan identitas yang membangun kepercayaan terhadap suatu bisnis,” pungkasnya.
Ia juga menilai masih diperlukan peningkatan pemahaman praktis mengenai sistem merek di kalangan pelaku usaha. “Banyak pelaku usaha sudah memahami pentingnya merek, namun informasi mengenai cara pendaftaran dan pemanfaatannya masih perlu diperluas agar merek benar-benar dapat mendukung pertumbuhan usaha,” tambahnya.
Selain dari DJKI dan JICA, seminar ini menghadirkan berbagai narasumber dari Kementerian Ekonomi Kreatif, Badan Riset dan Inovasi Nasional, serta Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah untuk membahas proses pendaftaran merek, strategi pelindungan, serta pemanfaatannya sebagai instrumen peningkatan daya saing usaha. Diskusi juga menegaskan bahwa pelindungan kekayaan intelektual harus menjadi bagian dari ekosistem inovasi nasional yang mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis kreativitas.
Melalui kerja sama DJKI dan JICA, pemerintah berharap kesadaran pelaku start-up dan UMKM terhadap pentingnya pelindungan merek semakin meningkat. Dengan mendaftarkan dan mengelola merek secara tepat, pelaku usaha tidak hanya melindungi identitas produknya, tetapi juga memperkuat daya saing serta membuka peluang ekspansi ke pasar yang lebih luas.
Jakarta – Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum terus mengakselerasi persiapan menuju status International Searching Authority (ISA) melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia dan sistem pendukung. Upaya ini dibahas dalam rapat lanjutan yang dipimpin Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual, Hermansyah Siregar, pada 2 April 2026 di Gedung DJKI.
Kamis, 2 April 2026
Upaya memperkuat pelindungan aset kekayaan intelektual (KI) di Pulau Dewata kian menunjukkan hasil yang signifikan. Menteri Hukum Republik Indonesia, Supratman Andi Agtas, secara simbolis menyerahkan 146 sertifikat kekayaan intelektual dalam kegiatan yang berlangsung di Balai Budaya Ida Dewa Agung Istri Kanya, pada Rabu 1 April 2026.
Rabu, 1 April 2026
Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum Hermansyah Siregar menegaskan pentingnya pelindungan kekayaan intelektual (KI) bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam kegiatan Temu Wicara mengenai Hak Kekayaan Intelektual dan Manajemen Usaha di Bali, Rabu (01/04/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya strategis pemerintah dalam memperkuat daya saing UMKM melalui pemanfaatan dan pelindungan KI secara optimal.
Rabu, 1 April 2026