Jenewa – Batik Complongan, batik khas Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu warisan budaya unggulan Indonesia di kancah internasional. Melalui teknik pelubangan manual yang khas dan motif bernilai seni tinggi, Batik Complongan kini menjadi salah satu kekayaan budaya yang dipamerkan dalam ajang World Intellectual Property Organization (WIPO) di Jenewa, Swiss pada 17 Juli 2025.
Keikutsertaan Batik Complongan dalam pameran yang diselenggarakan oleh WIPO tersebut merupakan bagian dari upaya Pemerintah Indonesia, melalui Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum, untuk memperkenalkan produk Indikasi Geografis (IG) kepada dunia dan memperkuat diplomasi budaya Indonesia berbasis kekayaan intelektual.
“DJKI ingin menunjukkan bahwa produk tradisional pun bisa naik kelas dan bersaing secara global, selama ada pelindungan kekayaan intelektual yang memadai. Produk seperti Batik Complongan adalah contoh bagaimana budaya dan inovasi bisa berjalan seiring,” ujar Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual, Razilu.
Batik Complongan berasal dari daerah Indramayu dan mulai berkembang sejak pertengahan abad ke-20. Nama “complongan” diambil dari kata complong, yaitu lubang-lubang kecil yang dibuat dengan jarum setelah proses pembatikan. Teknik ini menghasilkan tekstur khas yang membuat batik terlihat hidup dan memiliki nilai estetika tinggi.
Motif-motif Batik Complongan umumnya terinspirasi dari kehidupan pesisir Indramayu, seperti flora dan fauna laut, tumbuhan, serta simbol-simbol budaya lokal. Pewarnaan dilakukan secara tradisional menggunakan bahan alami, menjadikan batik ini tidak hanya artistik tetapi juga ramah lingkungan.
Sebagai bentuk pelestarian budaya, Batik Complongan telah resmi didaftarkan sebagai Indikasi Geografis oleh DJKI pada tahun 2021. Pelindungan ini memastikan orisinalitas teknik dan motif tetap terjaga, serta memberikan dasar hukum terhadap upaya pemanfaatan ekonomi yang adil bagi masyarakat lokal.
“Pelindungan KI adalah investasi jangka panjang. Kita tidak hanya melindungi produk, tapi juga cerita, kerja keras, dan budaya yang menyertainya,” tambah Razilu.
Kehadiran Batik Complongan dalam pameran WIPO menjadi bukti bahwa pelindungan kekayaan intelektual dapat menjadi sarana untuk memperluas pengakuan global atas produk budacya Indonesia.
Pemerintah daerah Kabupaten Indramayu terus berupaya menjaga kelestarian Batik Complongan melalui berbagai pelatihan, edukasi, dan kegiatan regenerasi. Pelajaran membatik telah dimasukkan dalam muatan lokal di sekolah-sekolah, dan sanggar-sanggar batik aktif melibatkan generasi muda.
DJKI bersama Balai Besar Kerajinan dan Batik juga turut berperan dalam penguatan kapasitas perajin serta pengembangan inovasi desain agar Batik Complongan tetap relevan di pasar modern.
Batik Complongan telah tampil di berbagai ajang bergengsi, seperti Inacraft, International Batik Expo, dan kini dalam WIPO General Assembly di Jenewa, Swiss. Produk ini semakin diminati oleh desainer dalam dan luar negeri berkat desainnya yang khas dan eksklusif.
Pemerintah juga tengah mendorong upaya pencatatan kekayaan intelektual secara komersial serta memperkuat potensi Indikasi Geografis (IG) untuk Batik Complongan sebagai produk unggulan khas Indramayu.
Dengan kombinasi antara pelindungan hukum, pengembangan budaya, dan promosi internasional melalui WIPO, Batik Complongan membuktikan bahwa kearifan lokal Indonesia mampu berbicara di panggung dunia. Setiap lubang kecil dalam helaiannya adalah cerita besar tentang identitas, kreativitas, dan kebanggaan bangsa. (MRW).
Dalam beberapa waktu terakhir, isu mengenai Tenun Tabere Siwole menjadi perhatian publik. Menyikapi hal tersebut, Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum melalui Direktur Hak Cipta dan Desain Industri Agung Damarsasongko, menegaskan, dalam konteks kekayaan intelektual (KI) terdapat perbedaan mendasar antara hak cipta desain motif, ekspresi budaya tradisional (EBT), dan indikasi geografis, yang masing-masing memiliki karakteristik serta mekanisme pelindungan yang berbeda.
Senin, 12 Januari 2026
Dari Kampung Batik Panca Mukti, geliat pembatik mulai terasa sejak 2020 dan terus berkembang hingga sekarang. Batik Sungai Lemau bukan sekadar karya kriya; ia adalah cerita panjang masyarakat Bengkulu Tengah yang dituangkan dalam kain. Motifnya tidak lahir dari khayalan semata, tetapi berasal dari sejarah Kerajaan Sungai Lemau, budaya pesisir, hingga topografi daerah yang unik. Empat unsur wajib Gunung Bungkuk, Aliran Sungai Lemau, Pelepah Kelapa Sawit, dan Batu Andesit adalah keunikan utama yang tidak ditemukan dalam batik daerah lain manapun di Indonesia.
Jumat, 9 Januari 2026
Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum bersama Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN) dan Asosiasi Industri Rekaman Indonesia membahas teknis pengumpulan data lagu dan musik pada Kamis, 8 Januari 2026, di Gedung DJKI, Kuningan, Jakarta Selatan. Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual Hermansyah Siregar menyampaikan harapannya agar Pusat Data Lagu dan/atau Musik (PDLM) dapat menjadi fondasi pengelolaan royalti dan lisensi musik di Indonesia.
Kamis, 8 Januari 2026
Senin, 12 Januari 2026
Jumat, 9 Januari 2026
Kamis, 8 Januari 2026