Kenali Gerabah Kasongan dari Bantul Yogyakarta

Bantul - Gerabah Kasongan merupakan jenis produk yang dilestarikan oleh Masyarakat Pelindungan Indikasi Geografis (MPIG) yang menjadi ikon tersendiri Kabupaten Bantul. Kasongan sendiri merupakan industri yang berfokus pada kerajinan gerabah (tanah liat) atau kerajinan keramik yang merupakan aset dari Bantul, Yogyakarta. 

Sentra kerajinan Gerabah Kasongan ini sudah menerima pesanan hingga diekspor ke mancanegara. Nama Kasongan sendiri diambil dari sebuah desa wisata yang giat memproduksi Gerabah Kasongan.

Sejarah Gerabah di Kasongan dimulai sejak zaman kolonial Belanda yaitu sekitar tahun 1800 oleh Kyai Guru Abdul Raup yang merupakan Ulama Ageng Pesantren Kasongan, sekaligus prajurit Pangeran Diponegoro. 

Ia mengembangkan wilayah kasongan yang tandus menjadi daerah para Kudhi (perajin) yang membuat benda pecah belah dari bahan tanah liat dengan pembakaran suhu rendah yang menghasilkan produk yang disebut gerabah. 

Saat ini, gerabah merupakan komoditas unggulan dari daerah Kasongan Kabupaten Bantul karena diusahakan oleh hampir 80% masyarakat yang ada di daerah ini.

Ciri khas Gerabah Kasongan Bantul yaitu adanya penggunaan teknik tempel yang ada pada proses produksi dan sudah dilakukan secara turun menurun dengan keahlian tingkat tinggi. Didukung dengan unsur bahan baku berupa tanah lempung yang menjadi bahan dasar gerabah dengan ciri warna teracota.

Untuk melihat adanya potensi indikasi geografis (IG) Tim Pemeriksa Ahli Indikasi Geografis dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) melakukan kunjungan dalam rangka pemeriksaan tahapan proses pembuatan kerajinan gerabah tersebut pada Sabtu, 9 Maret 2024. 

Pengidentifikasian tanah ini masih dilakukan secara manual oleh pengrajin bahan baku dimana kemampuan ini menuntut pengetahuan akan jenis-jenis tanah sehingga dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan Gerabah Kasongan Bantul. 

Menurut Tim Ahli IG Gunawan Proses pembuatan gerabah juga menuntut keterampilan pengrajin selain penentuan bahan baku tanah untuk dijadikan kerajinan gerabah yang disesuaikan dengan bentuk gerabah yang akan dibuat. 

“Teknik putar, teknik lelet dan teknik cetak yang digunakan untuk membentuk badan gerabah yang dikombinasikan dengan teknik kerawang, teknik gores dan teknik tempel menghasilkan karya gerabah yang unik dan khas dari Kasongan Bantul,” terangnya.

Produk ini banyak diminati bahkan oleh konsumen dari luar negeri karena memiliki karakteristik yang unggul dan spesifik dibandingkan dengan kerajinan gerabah di daerah lain.

Ia berharap setelah melakukan tinjauan lokasi dan pengidentifikasian tanah dan didaftarnya Gerabah Kasongan bisa meningkatkan ekonomi setempat dan mendunia karena reputasi dan penjualan kerajinan Gerabah Kasongan Bantul sudah mencapai pasar internasional.



LIPUTAN TERKAIT

Tim Ahli IG Bersama Dengan DJKI Lakukan Pemeriksaan Substantif Tenun Donggala

Tim Pemeriksaan Substantif Indikasi Geografis (IG) melakukan kunjungan lapangan ke Sentra Produksi Tenun Donggala dalam rangka Pemeriksaan Substantif atas Permohonan IG Tenun Donggala pada Rabu, 27 Maret 2024, di Kabupaten Donggala.

Kamis, 28 Maret 2024

DJKI Gelar Audiensi Bersama UNPAD Terkait Pemanfataan KIK

Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) adalah kekayaan intelektual (KI) yang berupa Ekspresi Budaya Tradisional (EBT), Pengetahuan Tradisonal (PT), Sumber Daya Genetik (SDG) dan Potensi Indikasi Geografis sehingga KIK merupakan identitas suatu kelompok atau masyarakat. Adapun kepemilikan KIK berbeda dengan KI lainnya karena bersifat kelompok.

Rabu, 10 Januari 2024

Batik Gambo Muba Indikasi Geografis Sumatera Selatan Siap Mendunia

Menyambut tahun 2024 sebagai tahun tematik Indikasi Geografis, saat ini di Sumatera Selatan telah terdaftar Batik Gambo Muba yakni batik khas Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) yang dibuat dengan metode jumputan dan menggunakan pewarna alami dari limbah gambir.

Jumat, 27 Oktober 2023

Selengkapnya