Belajar Bisnis Kekayaan Intelektual dari Si Juki

Berawal dari keisengan untuk pamer karya kepada teman-teman dekatnya di kampus, Faza Ibnu Ubaydillah atau dikenal Faza Meonk membuat karakter ikonik si Juki dengan ciri khas rambut jabrik, mata belo, dan gigi besar.

Tidak disangka, ternyata karakter Juki diminati banyak orang dan menjadi cukup terkenal. Hingga akhirnya beberapa penerbit menawarkan kerja sama untuk merilis komik. Dari situlah Faza termotivasi untuk mengembangkan si Juki agar dikenal masyarakat luas.

Dalam perjalanan penjualan perdana komik si Juki berjudul Ngampus! Buka-bukaan Aib Mahasiswa, awalnya Faza sangat optimis penjualan komik tersebut laris di pasaran, nyatanya penjualannya dirasa biasa saja.

Dari kejadian tersebut, Faza mulai belajar bagaimana cara mengembangkan karyanya untuk mendapatkan keuntungan yang lebih melalui lisensi bisnis. Seperti yang dilakukan Disney maupun perusahaan besar animasi lainnya.

“Dan itu yang membuat saya mulai puter otak. Bagaimana caranya saya bisa punya komik yang laris misalnya, dan 2012 saya mulai ngulik tentang intellectual property (IP) dan licensing business,” kata Faza saat IP Talks Merdeka Dalam Berkarya sebagai bagian peringatan HUT ke-76 RI di kanal instagram DJKI pada Minggu (15/8/2021).

Hal tersebut ia lakukan karena merasa bahwa saat itu di Indonesia belum banyak para kreator lokal yang mempraktekan lisensi bisnis untuk suatu karya agar memiliki produk turunan.

“Jadi saya mulai belajar tuh, tapi saya tidak tahu harus belajar ke siapa, jadi otodidak belajar tentang IP business, licensing business. Sebagai contoh saya suka Doraemon, entah kenapa cuma dari komik bisa punya produk turunannya. Ada filmnya, ada game-nya, ada animasinya, sampai ada tempat pensil gambarnya Doraemon,” ucap Faza.

Menurutnya, suatu ide dapat dikatakan kekayaan intelektual ketika ide tersebut dituangkan ke dalam suatu medium sehingga menghasilkan karya yang memiliki nilai ekonomi.

“Suatu ide dapat disebut IP ketika punya value kekayaan. Value kekayaan bisa macam-macam. Apakah sebuah ide ini berharga karena sebuah ide ini bisa dijadikan sebuah buku, terus bukunya terjual banyak, nah itu jadinya IP,” ujar Faza.

Sebagai seorang kreator seni, dirinya menganggap bahwa melindungi kekayaan intelektual adalah suatu kebutuhan. Mengingat, setiap karya yang berhasil diciptakan bisa saja digunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Karenanya, dengan mencatatkan dan mendaftarkan kekayaan intelektual dapat mengamankan karya tersebut.

Untuk menumbuhkan kepedulian masyarakat Indonesia terhadap kekayaan intelektual serta menghormati karya yang diciptakan seseorang, Faza menyarankan agar wawasan mengenai kekayaan intelektual tersebut sudah diperkenalkan mulai dari sekolah dasar.

“Karena edukasi mengenai hak cipta ini belum seluas itu, sehingga orang itu kadang-kadang memang bukan berniat jahat tetapi karena tidak tahu. Jadi, kalau menurut saya harusnya wawasan tentang hak cipta ini harusnya sudah pelan-pelan masukin sedari SD, SMP. Jadi nantinya sampai dewasa ada kesadaran,” ungkapnya.


TAGS

#Agenda KI

LIPUTAN TERKAIT

Pengajuan Banding sebagai Usaha Mempertahankan Merek

Dalam pengajuan pelindungan merek, permohonan dari masyarakat bisa saja mendapatkan penolakan dari pemeriksa merek Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham).

19 Agustus 2022

Plt. Dirjen KI dan Sesditjen KI Dapat Penghargaan Karya Dhika Kemenkumham

Plt. Dirjen KI dan Sesditjen KI mendapat penghargaan Karya Dhika Kemenkumham 2022 di acara malam Tasyakuran Hari Dharma Karyadhika ke 77 yang berlangsung di Hotel Sultan Jakarta, Senayan, Kamis, 18 Agustus 2022.

18 Agustus 2022

DJKI Kini Punya Aplikasi Pemantau Kinerja Pegawai

Di era teknologi informasi yang berkembang sangat pesat ini, Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) terus melakukan inovasi, salah satunya dengan menciptakan aplikasi yang dapat menilai kinerja pegawai, yaitu e-Performance. 

18 Agustus 2022

Selengkapnya