Ke Mana Produk Dibawa, Di Sana Selera Berbicara

Jakarta – Sebuah produk bisa saja dibuat dengan bahan terbaik, diproses dengan cermat, dan memiliki kualitas yang tak perlu diragukan. Namun, sebelum konsumen mencicipi atau menggunakan isinya, ada satu hal yang lebih dulu mereka lihat: kemasannya.

Di situlah persoalan menjadi menarik. Kemasan bukan hanya bertugas menjaga produk tetap aman. Ia menjadi kesan pertama, penanda identitas, sekaligus cara sebuah produk menyapa calon pembelinya. Warna, bentuk, motif, ilustrasi, sampai simbol tertentu bisa membuat sebuah produk terasa lebih akrab bagi orang yang melihatnya.

Karena itu, membuat kemasan yang menarik sebaiknya tidak berhenti pada mengikuti tren desain. Produsen perlu mengenali siapa yang hendak mereka sapa. Sebab, selera konsumen tidak selalu seragam. Apa yang terlihat menarik di satu daerah belum tentu memiliki daya tarik yang sama di daerah lain.

Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual (KI) Hermansyah Siregar menemukan gambaran sederhana tentang hal tersebut ketika beberapa minggu lalu berkunjung ke Aceh. Di sela aktivitasnya, ia bercerita tentang pengamatannya terhadap kemasan kopi yang ditemuinya di sana.

“Kemarin saya ke Aceh, ada toko jual kopi. Ada bungkusan dengan warna emas, ada merah, ada hitam. Penjualnya bercerita bahwa kebanyakan pembeli melirik warna emas karena orang Aceh umumnya senang warna itu,” ujar Hermansyah di Gedung DJKI pada 14 Agustus 2026.

Sekilas, pilihan warna mungkin terdengar sebagai perkara selera yang sederhana. Tetapi bagi produsen, cerita itu menyimpan pelajaran penting, yakni konsumen membawa latar budaya mereka ketika memilih sebuah produk.

Maka, sebelum memasarkan produk ke suatu daerah, ada baiknya produsen tidak hanya bertanya, “Apa yang mau saya jual?” tetapi juga, “Kepada siapa produk ini akan dijual?” Jawabannya bisa ditemukan dari banyak hal yang dekat dengan kehidupan masyarakat seperti warna yang mereka sukai, motif yang mereka kenal, bentuk yang mereka anggap menarik, atau simbol yang memiliki arti tertentu bagi mereka.

Dari sini, kemasan dapat menjadi lebih dari sekadar pelengkap. Ia dapat menjadi hasil dari proses membaca pasar sekaligus menerjemahkan karakter konsumen ke dalam bahasa visual. Produk yang sama bahkan dapat memiliki pendekatan kemasan berbeda ketika menyasar masyarakat dengan karakter budaya yang berbeda.

Menariknya, pendekatan semacam ini juga relevan ketika berbicara mengenai produk yang memiliki kekhasan daerah. Salah satunya adalah produk indikasi geografis. Produk indikasi geografis memiliki karakteristik, kualitas, atau reputasi yang berkaitan dengan wilayah geografis asalnya. Artinya, ada cerita tentang tempat, masyarakat, dan lingkungan yang membuat produk tersebut memiliki kekhasan.

Cerita itu tentu tidak harus berhenti di dalam dokumen pelindungan. Ia dapat hadir dalam cara produk diperkenalkan kepada konsumen. Kemasan yang dirancang dengan baik dapat membantu memperkuat identitas produk, selama tetap merepresentasikan karakter dan asal produk secara tepat.

Di titik inilah pelindungan KI menjadi penting. Kreativitas yang dituangkan ke dalam desain kemasan, merek, ilustrasi, maupun elemen visual lainnya dapat memiliki nilai ekonomi. Ketika unsur-unsur tersebut menjadi pembeda sebuah produk, produsen perlu memastikan KI yang relevan telah mendapatkan pelindungan.

Untuk produk yang telah terdaftar sebagai indikasi geografis, Hermansyah juga mengingatkan agar identitas pelindungan tersebut tidak ditinggalkan ketika produsen memperbaiki kemasan.

“Kalau sudah terdaftar sebagai indikasi geografis, kemudian buat kemasan yang baik, satu lagi yang tidak boleh dilupakan adalah mencantumkan logo resmi indikasi geografis. Itu logo yang sudah diakui dunia,” kata Hermansyah.

Logo resmi indikasi geografis berwarna merah dengan bentuk bunga teratai bukan sekadar ornamen tambahan pada kemasan. Penyematannya menjadi penanda bahwa produk tersebut telah memperoleh pelindungan indikasi geografis dan sekaligus membantu konsumen mengenali produk yang memiliki kekhasan dari wilayah tertentu.

Karena itu, bagi produsen yang hendak memperluas pasar, membaca karakter masyarakat di daerah tujuan bisnis dapat menjadi langkah sederhana yang tidak boleh dilewatkan. Bisa jadi jawabannya ada pada sesuatu yang sesederhana warna emas. Bisa pula ditemukan pada motif, bentuk, atau simbol yang selama ini hidup dekat dengan masyarakat. Sebab, produk yang berhasil bukan hanya produk yang bagus, tetapi produk yang tahu bagaimana memperkenalkan dirinya kepada orang yang tepat dan melindungi kreativitas yang membuatnya berbeda.

Pada akhirnya, membuat produk yang baik memang harus dimulai dari kualitas. Namun, kualitas perlu bertemu dengan cara penyajian yang tepat. Kemasan menarik perhatian, budaya menciptakan kedekatan, dan KI memberikan pelindungan atas kreativitas serta identitas yang dibangun.



LIPUTAN TERKAIT

Indonesia Kawal Aturan Global Lawan Pembajakan Budaya

Indonesia kembali menunjukkan kepemimpinannya dalam diplomasi kekayaan intelektual internasional dengan menyampaikan dua pernyataan penting pada Sesi ke-53 Intergovernmental Committee on Intellectual Property and Genetic Resources, Traditional Knowledge and Folklore (IGC) World Intellectual Property Organization (WIPO) di Markas Besar WIPO, Jenewa, Swiss. Indonesia tidak hanya menyampaikan Pernyataan Nasional melalui Menteri Kebudayaan Fadli Zon, tetapi juga mewakili Like-Minded Group of Countries (LMCs) yang terdiri dari negara-negara berkembang anggota WIPO.

Rabu, 16 September 2026

Resmi di Tutup, Road to Indonesia Patent Business Forum Bawa Paten Menuju Aset Ekonomi

Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual atau DJKI Kementerian Hukum menutup rangkaian FGD dan Workshop Road to Indonesia Patent Business Forum pada Rabu, 16 September 2026, di AYANA Midplaza Jakarta. Penutupan dilakukan Direktur Paten, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu, dan Rahasia Dagang DJKI, Andrieansjah, setelah rangkaian kegiatan yang berlangsung selama tiga hari.

Rabu, 16 September 2026

GI Tourism Dieng Dorong Pemanfaatan Indikasi Geografis

Rencana pengembangan Pilot Project GI Tourism Dieng mendapat dukungan Pemerintah Kabupaten Wonosobo. Dukungan tersebut dibahas dalam audiensi di Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Wonosobo, 15 September 2026, menjelang uji jalur GI Tourism yang akan berlangsung pada 21–23 September 2026.

Selasa, 15 September 2026

Selengkapnya