Duta HKI 2012

AGNES MONICA

DUTA HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL NASIONAL TAHUN 2012

penganugrahanAgnes Monica lahir di Jakarta pada tanggal 1 Juli 1986. Anak bungsu dari pasangan Jenny Siswono dan Ricky Suprapto memulai kariernya di industri hiburan pada usia enam tahun sebagai seorang penyanyi cilik. Nama Agnes melambung sebagai penyanyi cilik saat ia merilis album duet bersama Eza Yayang. Selain bernyanyi, Agnes juga kemudian menjadi presenter di beberapa acara televisi anak-anak dan berhasil meraih penghargaan Panasonic Award untuk Pembawa Acara Anak-anak Terfavorit selama dua tahun berturut pada 1999 dan 2000.

Saat menginjak usia remaja, Agnes mulai terjun ke dunia seni peran. Sinetron Pernikahan Dini berhasil melambungkan nama Agnes dan menghapus citranya sebagai seorang artis cilik. Pada tahun 2003 Agnes dewasa merilis album dewasa pertamanya bertajuk And The Story Goes. Album tersebut berhasil meraih double platinum dengan penjualan lebih dari 300.000 keping. Kesuksesan dalam usia yang masih sangat muda membuat Agnes mendapat julukan “Diva Muda” dalam kancah musik Indonesia.

Karir Agnes akhirnya merambah ke kancah internasional. Agnes mengajak penyanyi asal Amerika Serikat Keith Martin berkolaborasi di album keduanya yang berjudul Whaddup A. Agnes juga pernah menggelar konser tunggal untuk pertama kali di Stadium Negara, Kuala Lumpur, Malaysia yang disaksikan sebanyak 3000 penonton.

Pada tahun 2008, Agnes merilis lagu berjudul “Matahariku”, yang merupakan single terlaris Agnes dengan penjualan nada sambung mencapai lebih dari tiga juta dalam waktu sembilan bulan. Banyak lagi prestasi Agnes lainnya seperti menjadi salah satu juri pada ajang pencarian bakat “Indonesian Idol”, pemandu acara pada karpet merah pagelaran “American Music Award” di Los Angeles, Amerika Serikat, penyanyi dengan jumlah penghargaan paling banyak di Indonesia, dan juga dipercaya menjadi duta anti narkoba se-Asia serta duta “MTV-Exit” dalam memberantas perdagangan manusia.

Dengan segudang prestasi yang telah diperoleh Agnes dalam rentan usia yang masih sangat muda inilah, akhirnya Agnes Monica dinobatkan sebagai Duta Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Nasional tahun 2012 oleh Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (DJHKI) Kementerian Hukum dan HAM RI.

Berikut petikan wawancara DJHKI dengan Agnes Monica :

agnes-monica-interview  : 

 

Bagaimana kesan dan pesan sebagai Duta HKI?

 

agnes-monica-interview  : 

Saya sebenarnya ingin share ke masyarakat bahwa tanggungjawab terhadap HKI bukan hanya di pihak pemerintah tetapi justru sebenarnya dari tanggungjawab pribadi. Dan tadi kenapa saya juga sempat bicara masalah demand dari masyarakat karena cause of the people. Kalau sudah ada demand dari masyarakat terhadap apresiasi atau recognition dari HKI itu sendiri, mau tidak mau pada akhirnya pemerintah pun pada akhirnya akan memberikan perhatian khusus. Sementara kalau misalnya masyarakat demand-nya lebih banyak ke gosip, demand-nya skala publisitas yang masyarakat ingin dengar skala publisitasnya lebih besar gossip. Kita juga tidak bisa menyalahkan line TV juga. Karena demand dari masyarakatnya lebih banyak yang ingin nonton perceraian. Sementara kalau ada anak bangsa yang mungkin berkreasi, memberikan suatu inovasi, menciptakan, itu tidak ada exposer. Kita tidak bisa bilang ini sepenuhnya salah TV karena TV itu juga menayangkan apa yang diminta oleh masyarakat. Jadi sekarang kembali lagi, kalau masyarakat itu sendiri punya demand-nya atau apresiasinya terhadap inovator-inovator atau kreator dari bangsa Indonesia, mau gak mau pasti publicitynya pasti akan ada. Tetapi tentu aja, seperti yang saya bilang, kita tidak bisa sepenuhnya di government atau sepenuhnya di kita. Semuanya harus berjalan berbarengan.

agnes-monica-interview  : 

 

Apa yang akan dilakukan sebagai Duta HKI?

 

agnes-monica-interview  : 

Pada saat saya tetap berusaha untuk be the best that I can be, artinya, lebih baik saya show daripada bercerita sebenarnya, karena itu yang paling efektif. Kalau kita hanya bercerita tanpa ada bukti yang nyata orang juga akan bilang “those who can’t do teach”. Karena banyak orang yang bisa melakukan tapi seperti supporter bola, dia cuma bilangnya “mestinya begini” tapi kalau dia sendiri turun dia tidak bisa. Artinya orang perlu bukti. Nah itu yang selama ini coba untuk lakukan adalah “I’ll try to be the best that I can be”. Pada saat lagi ternyata saya bisa membuktikan bahwa bangsa Indonesia itu bisa jadi kreator kelas dunia, bisa juga jadi inspirator bukan hanya untuk orang-orang Indonesia tapi juga untuk dunia luar. Pada saat itu baru suara kita didengar. Dan sekarang kalau misalnya, sebenarnya banyak orang-orang Indonesia yang punya kapasitas, yang sangat kreatif, yang sangat-sangat kreatif, yang punya ciptaan yang luar biasa. Tapi sekali lagi karena apresiasinya tidak ada, pada akhirnya, yaitu entah kehilangan motivasi atau tetap motivasi tetapi dia hidden, tidak ketahuan. Kenapa? Bukan tidak ada, tetapi karena tidak ada publisitasnya. Dan pada akhirnya, ya menurut kasat mata tidak ada aja seolah-olah. Sebenarnya kalau di luar negeri, contohnya kita lihat seperti skype, facebook, twitter. Tadi aku juga bilang banyak ciptaan-ciptaan yang sebenarnya konteksnya itu kan sama. Konteksnya sudah ada, dunia komunikasi telepon itu kan sudah ada dari jaman dulu. Tetapi kemudian ada inovasi-inovasi misalnya yang menggabungkan konsep yang sudah ada dengan konsep baru yang sesuai dengan perubahan atau kebutuhan jaman sekarang. Contohnya, kebutuhan zaman sekarang dimana kita perlu komunikasi yang lebih cepat, makanya kenapa kalau dulu pakai kuda sekarang pakai pesawat terbang. Tidak ada lagi orang yang travel dengan kuda gitu, orang travel dengan pesawat terbang. Orang meeting dengan orang-orang yang di luar negeri itu sudah tidak perlu lagi capek-capek buang tiket atau segala macam, semua sudah pakai conference call. Itu kan sebenarnya inovasi baru yang tidak bisa dibilang original karena itu konteksnya sudah ada, tapi “some what new” yaitu bisa pada akhirnya membawa perubahan besar untuk dunia itu sendiri kan, karena ciptaannya itu dilindungi. Kalau ciptaannya tidak dilindungi tidak mungkin dia jadi sebesar ini.

djhki  : 

 

Bagaimana dengan pembajakan?

 

agnes-monica-interview  : 

Seperti tadi masalah demand, artinya kalau misalnya kita harus sadar bahwa sekarang ini sudah zaman globalisasi dimana kita itu bersaingnya bukan cuma sama orang Indonesia tetapi kita sudah menjadi komunitas global yang dimana persaingan itu juga sama orang-orang luar negeri. Demand atau tanggung jawab kita sebagai komunitas global harusnya sudah ada di tahap dimana kita memikirkan kepentingan yang lebih besar. Kita harus punya tanggung jawab itu. Dan tanggungjawabnya adalah salah satunya adalah dengan menghargai kreatifitas orang dan karya-karya orang recognition. Mulai dari hal yang paling kecil dulu. Tidak usah kita bicara masalah penghargaan yang diberikan oleh government dulu deh, kita bicara penghargaan yang diberikan oleh diri kita sendiri kepada orang lain. Karena kalau satu orang punya kesadaran seperti itu, 10 orang aja dari 100 orang, itu kalau kita skalanya lebih besar artinya makronya akan punya impact yang luar biasa. Sementara kalau dari 100 orang hanya ada satu orang, ya sebenarnya tetap akan bawa perubahan daripada tidak. Cuma, alangkah lebih bagusnya kalau tanggungjawab dari apresiasi itu juga dimulai dari diri kita sendiri.

djhki  : 

 

Bagaimana dengan nasionalisme?

 

agnes-monica-interview  : 

Makanya ini yah, kadang-kadang yang aku bilang orang-orang banyak yang bilang “oo.. bicara bahasa inggris tidak nasionalis”. Kalau buat aku itu adalah pikiran yang sangat picik. Sekarang gimana caranya kita bisa bawa pesan ke dunia kalau kita tidak berbicara dalam bahasa Internasional. Artinya seriously satu hal yang sebenarnya orang-orang harus sadari bahwa yang tidak nasionalis adalah kalau kita terus-terusan fokus terhadap apa yang positif dari bangsa lain tapi terus-terusan berfikiran negatif yang ada di bangsa sendiri. Kalau buat aku itu yang tidak nasionalis. Yang tidak nasionalis adalah pada saat kita punya talenta yang luar biasa dari bangsa sendiri tapi yang “what we do” itu hanya mencari negatifnya saja. Pesimis terhadap talenta terhadap bangsa sendiri, sementara kalau dari luar sebenarnya talentanya tidak ada. Itulah yang paling penting adalah cara pandang kita terhadap sesuatu. Itu yang menentukan tindakan kita terhadap orang itu.

djhki  : 

 

Apa pesan untuk musisi Indonesia yang ingin terkenal seperti Agnes?

 

agnes-monica-interview  : 

Be the best that You can be. Statement ini sebenarnya kelihatannya simple tetapi itu susah. Kenapa? Karena itu butuh konsistensi, kerja keras. Menyadari tanggungjawab pribadi dan kadang-kadang yang namanya tanggungjawab itu bisa jadi beban. Tapi ya itu be the best that You can be pada saat lagi kamu bisa be the best that You can be dan ternyata kamu pikir kamu masih kurang, do more and the best.

Sumber : Subdit Promosi Direktorat Kerja Sama